Kaya dengan Produk Kelapa

| February 12, 2013 | 0 Comments
Aneka Produk olahan kelapa

Aneka Produk olahan kelapa

Bisnis yang diniatkan sebagai sumber penghasilan tambahan setelah sang suami pensiun, UD Sumber Rejeki yang didirikan oleh Mami Suyatmi terus berekspansi. Sukatna

Sebuah botol gelap berisi cairan hitam dililit label kertas dengan dominasi warnah merah. Di pojok label terpampang foto wanita sepuh (tua) dengan tatapan mata tajam tetapi sekaligus teduh. Itulah tatapan mata Mami Suyatmi, wanita yang kini usianya sudah menginjak 70 tahun. Tatapan mata tajam itu menunjukkan bahwa semangat Mami Suyatmi tetap menyala meski di usia senja. Sedangkan tatapan teduh menunjukkan sifat mengayomi.
Filosofi itulah yang diterjemahkan Mami Suyatmi ke dalam produk kecapnya, Kecap Cap Ibu. “Saya ingin mendapatkan hasil tambahan, tetapi tetap memperhatikan sisi kesehatan. Maka lahirlah Kecap Cap Ibu,” kata Mami Suyatmi yang menjamin produk kecapnya diolah dari bahan-bahan alami tanpa bahan pengawet kimia.

Bisnis UD Sumber Rejeki dimulai Mami setelah sang suami Soetomo Tjipto Soedarmo pensiun dari Dinas Kesehatan. Pada waktu itu Mami masih bingung menentukan jenis bisnis yang akan digelutinya, meski ia memiliki puluhan ketrampilan mengolah makanan yang didapatkan ketika masih remaja. Akhirnya, pilihannya jatuh untuk membuat kecap. Selain, karena hampir semua keluarga membutuhkannya selama ini masih jarang kecap yang diolah tanpa melibatkan bahan kimia. “Bagi saya konsumen itu adalah anak-anak saya. Maka penting bagi saya memperhatikan aspek kesehatan sebagaimana saya memperhatikan kesehatan anak-anak saya sendiri,” kata Mami yang memproduksi kecap di rumahnya, Permata Duta Blok E4/6 Sukmajaya, Depok.

Lantaran Kecap Cap Ibu diolah dari bahan-bahan alami maka harganya relatif premium dibandingkan dengan yang ada di pasaran. Keberadaannya pun jarang ditemukan di pasaran, lantaran kecap ini didistribusikan di kalangan orang-orang yang sudah kenal dan memiliki komitmen terhadap makanan yang sehat. “Formulanya pernah mau dibeli sebuah perusahaan dengan harga Rp 1 miliar. Tetapi saya tidak tertarik,” ungkap Mami.
Seturut waktu, payung bisnis Kecap Cap Ibu UD Sumber Rejeki melakukan diversifikasi usaha. Namun karena usianya merambat tua, tongkat kepemimpinannya beralih ke sang menantu Vipie. UD Sumber Rejeki kini sudah memproduksi dan memasarkan kecap, VCO, minyak goreng anti-tengik, aneka sabun herbal dan arang batok kelapa. Tiap tahun, UD Sumber Rejeki selalu melakukan inovasi produk. Untuk itulah Vipie bekerjasama dengan sang suami, Wisnu Gardjito, orang nomor satu di Improvement Institute sebagai konsultannya.
Dan uniknya, mereka yang pernah menolak menjual formula produknya seharga Rp 1 miliar ini dengan sukarela menularkan ilmunya kepada sejumlah keluarga yang tergabung ke dalam suatu cluster di seluruh Indonesia. “Kami memiliki saham 20 persen di setiap usaha yang kami bentuk. Prinsipnya kami bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang. Dan saya anti-kapitalis,” ujar Wisnu, lulusan sebuah universitas di Amerika Serikat dan Jepang ini.

“Itu sebabnya kami menghitung segala sesuatunya berdasarkan equity, bukan uang,” tandas Wisnu yang tinggal menyelesaikan desertasi S3-nya di IPB untuk meraih titel doktor dengan predikat magna cum laude ini.

Selama ini tak banyak yang bisa menambah added value komoditas kelapa. Padahal ada 1.600 item produk yang bisa dihasilkannya. Wiyono

Anda pernah mendengar sirup air kelapa (sirkel)? Ya, sejatinya sirup hasil pengolahan limbah air kelapa tersebut hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak produk yang bisa dikembangkan dari hasil tanaman kelapa. Menurut Wisnu Gardjito, pengusaha plus aktifis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis satu ini terdapat 1.600 item produk akhir kelapa, primer maupun skunder. Direktur Improvement Institute yang juga dosen Akademi Pimpinan Perusahaan di bawah Departemen Perindustrian tersebut, dalam tugasnya mengembangkan agroindustri empat komoditas di Kawasan Timur Indonesia (coklat, kelapa, jagung, dan ikan) berkesimpulan, dari empat komoditas di atas maka paling strategis untuk dikembangkan adalah kelapa.
Wisnu memiliki sejumlah argumentasi. Area tanaman kelapa di Indonesia tercatat terluas di dunia tersebar di Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT, serta daerah-daerah lain, mengungguli Philipina yang memiliki 3,1 juta hektar disusul India dengan 1,1 juta hektar lahan. Tetapi uniknya, di Indonesia karakteristik usaha budidaya tanaman kelapa dimiliki oleh rakyat. Sebanyak 96% merupakan perkebunan rakyat yang diusahakan di kebun dan atau di pekarangan, secara monokultur atau kebun campuran. Jumlah petani kelapa lumayan besar, melibatkan sekitar 25 juta warga. Berarti apabila itu dimaksimalkan maka akan menopang hajat hidup sejumlah besar penduduk.

Ironisnya, pada saat ini nilai ekonomi kelapa dihargai sangat murah. Kian merosotnya harga jual kopra, akhirnya menyebabkan kecenderungan masyarakat makin membiarkan tanaman ini dalam kondisi tidak terawat sehingga berdampak makin anjloknya produktifitasnya. Maka Wisnu berpendapat perlu ada upaya sistem pengembangan terpadu melalui usaha-usaha kelompok/ klaster agar tercipta kesempatan nilainya melompat ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Sebut saja pengolahan kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO), misalnya.
Wisnu Gardjito menyebutkan, nilai tambah hasil pengolahan aneka produk berbahan dasar kelapa mampu mencapai 8800% dari harga sekarang. Soal teknologi pembuatan segala macam produk juga tidak perlu khawatir, sebab semuanya sudah kita miliki. Apalagi, Wisnu menyebutkan alasan terakhir, pasokan untuk kebutuhan pasar dunia nyaris masih kosong, total hanya sekitar 1,8% yang telah terisi.

Menyadari hal itu, sejak 1999 Wisnu mulai serius mengembangkan usaha berbasis kelapa. Sejatinya rintisan usaha sudah dilakukan keluarganya sejak 1996, berbendera usaha Sumber Rejeki dengan produk awal berupa kecap. Kemudian fokusnya mulai diperluas ke produk-produk lain sehingga akhirnya berkembang menjadi perusahaan agri specialist & agri trading. Dan sampai sekarang usaha yang kini dikelola bersama Vipie Gardjito, istrinya, itu telah berkembang sekitar 250 jenis produk akhir (Finished Goods), antara lain kelompok surfactant seperti sabun dan pembersih lainnya, minyak goreng putih, arang batok, asap cair, body lotion, lotion anti nyamuk, VCO, dan lain-lain semua berbahan dasar kelapa. Terakhir kali, mereka mengenalkan produk sirup berbahan limbah air kelapa.
Karena ketersediaan bahan baku tersebar meliputi wilayah dengan kondisi geografis yang luas, maka industri pengolahan produk kelapa tidak mungkin ditempatkan berpusat di satu titik, sebaliknya ikut menyebar di area sentra produksi kelapa. Secara singkat Wisnu menggambarkan, dari keseluruhan produk, Sumber Rejeki tidak selalu memproduksi langsung melainkan berposisi sebagai penampung sekaligus memperbaiki produk petani sebelum dipasarkan. Di sisi lain, melalui lembaga Improvement Institute yang ia pimpin, Wisnu giat menggalang dan melakukan pembinaan klaster-klaster di tengah-tengah masyarakat petani kelapa. Pembinaan itu meliputi technology transfer, pendanaan, sekaligus membuat semacam awareness program bagi pasar lokal hingga global.

“Intinya, desa-desa didesain agar mampu membuat produk-produk bernilai tambah tinggi yang marketable bagi global market, “ jelasnya mengenai klaster-klaster binaannya tersebut. Klaster ini dia sebut dengan nama AEC (Agroindustrial Export Cluster). Produk yang dihasilkan satu klaster bisa berupa produk mentah, atau pun berupa produk jadi dalam kemasan. Klaster berawal dari satu desa kemudian dihimpun dengan yang ada di desa-desa lain di seluruh Indonesia. Tentu saja dengan melibatkan dinas perkebunan, dan asosiasi petani kelapa. Selanjutnya semua disatukan dalam AEC (Agroindustry Export Cluster), suatu badan usaha murni milik rakyat.
Kepada pemerintah pusat, Wisnu bahkan telah menyiapkan proposal pembentukan lembaga BOPPAI (Badan Otorita Percepatan Pembangunan Agro Industri), khususnya kelapa. Dalam usulannya lembaga itu semestinya langsung bertanggung jawab kepada Presiden, tetapi tidak masuk dalam kabinet. “Kalau saja ada financial support dari pemerintah sekitar Rp 30 triliun, dalam waktu setahun dana tersebut sudah akan kembali, dan lima tahun sesudahnya, penghasilan bersih dari kelapa sekitar sebesar Rp 700 triliun,” ucapnya yakin.
Sebab, seperti diungkapkan, permintaan dari luar negeri berupa VCO, yang hanya merupakan salah satu produk derivatif kelapa saja, untuk pengiriman ke UK sebanyak 50 ton/bulan dan 100 ton/bulan ke USA belum sepenuhnya terlayani. “Kalau namanya agro tidak bisa kecil, pasti gede, karena setiap orang pasti butuh. AEC di Kendari pasokan VCO-nya cuma 60 ton sebulan, ordernya 100 ton sebulan,” imbuhnya. Padahal harga pasar dunia untuk VCO bermutu paling rendah sekitar USD 5,00/liter, harga standar USD 20,00/liter atau sekitar Rp 200.000,00/liter.
Di samping itu, ternyata banyak produk limbah kelapa yang masih memiliki nilai ekonomi. Sebagai contoh, tempurung, sabut kelapa, daun, lidi, dan sebagainya, bisa dimanfaatkan untuk bahan industri, kerajinan, dan lain-lain. Telah lama kita mengenal produk nata decoco dari hasil olahan limbah air kelapa, yang ternyata juga bisa dibikin sirup. Sebagai gambaran atas bisnis pembuatan sirkel yang dilakukan Wisnu dan Vipie, air kelapa per liter semula dihargai Rp 400,00. Dengan modal tambahan seperti gula, peralatan, berikut tenaga kerja, setelah diolah menjadi sirup, per liternya bernilai jual Rp 15.000,00. Berarti dari limbah tersebut mampu menghasilkan nilai tambah hampir 20%.
Produksi dilakukan dengan sistem klaster, di tiap daerah padat penduduk dibuatkan instalasi pembuatan sirkel. Dalam kondisi normal tiap satu titik klaster bisa menghasilkan 400 botol per hari. Keuntungan sudah bisa dihitung, kalau diambil keuntungan Rp 4.000/botol, berarti Rp 1,6 juta dari satu titik saja. Dengan adanya 20 titik didiperoleh keuntungan Rp 32 juta sehari.

Lebih jauh, mata rantai penjualan produk hasil olahan kelapa juga membuka peluang usaha baru. Dari harga Rp 15 ribu per botol, sebesar Rp 5 ribu adalah keuntungan buat pedagang. Sebab, selain orientasi ekspor, Wisnu tengah menggagas peluang kerjasama untuk penjualan ritel dengan model stand boat melalui sistem bagi hasil 60:40. Mitra dibekali termos CO2 serupa alat pembuat minuman berkarbonansi. Cukup dengan modal Rp 5 jutaan, disebutkan, sudah dapat beroperasi dua lokasi, dengan perkiraan pendapatan minimal @ Rp 300 ribu/hari, profit margin 300%, balik modal tidak sampai sebulan. Artinya, setiap orang berkesempatan menjadi kaya dari produk-produk berbasis kelapa.

Tags: , , ,

Category: News

Leave a Reply